aku menatap lamat-lamat pada seekor kunang-kunang yang melintas
begitu terang dan begitu indah
memancarkan cahaya terang di kegelapan malam
sebagai pengganti lilin
aku tersenyum, ia menyapaku
aku menatap lamat-lamat rumput yang bergoyang di padang luas
begitu anggun dan menyejukkan dipandang
mengubah posisi hati yang gelisah menjadi tenang
aku tersenyum, ia membelaiku
lantas aku menatap lamat-lamat diriku di cermin
yang memantulkan visualisasi sempurna seperti aslinya
begitu suram dan tak bercahaya
mata yang begitu redup untuk sekedar menatap harapan
aku tidak tersenyum tidak juga menangis
datar. melihat aku tak bisa membantu diriku sendiri
aku berakhir untuk menatap lamat-lamat sekitarku
yang menyadarkanku betapa kecilnya kehadiranku
bahkan hanya untuk dirasakan
begitu telak aku disadarkan bahwa aku bukan apa-apa
aku menangis, dunia melemparku